RSS

Not Another Ordinary Morning at The Coffee Shop

20 Apr

Noel mengambil Hazelnut Latte-nya dan duduk di pojok kedai kopi langganannya sambil merokok dan membaca email – email dari kantor melalui iPhone-nya. Tidak ada yang menarik selain info rapat ini dan itu. Noel meletakkan ponselnya dan saat itulah matanya menangkap sosok yang familiar.

Perempuan ini memakai skinny jeans yang pudar, kemeja merah motif kotak – kotak lusuh, kacamata hitam dan rambut yang agak acak-acakan. Tangannya memegang Blackberry sementara tangannya mengetuk-ngetuk meja counter sambil menunggu pesanannya dibuat. Sesaat setelah barista selesai membuatkan pesanan perempuan ini dan saat perempuan ini bersiap pergi, Noel berdiri di depannya dan tersenyum penuh kemenangan, “Lagi ngapain… Zahra?”

***

Zahra dan Noel duduk di tempat favorit Noel tadi. Zahra tidak melepas kacamatanya, berakting natural seakan-akan majalah yang dipegangnya adalah benda paling menarik sedunia. Sementara Noel terus memasang evil-smile-nya, menatap Zahra tanpa berkedip. Sampai akhirnya Zahra menyerah dan meletakkan majalah itu ke meja.

Okay,” desah Zahra kemudian meraih frapuccinonya.

“First thing first… what the fuck are you doing here at…” Noel memandang jam tangannya, “…7 am in the morning?”

Belum sempat Zahra membuka mulut namun Noel memotongnya, “And why you have sex-hair?”

“Apaan tuh sex hair?”

Noel menaikkan alisnya kemudian menyeruput minumannya dan menyeringai lagi. Bak seorang penjudi yang tahu ia akan menang taruhan.

“Don’t tell anyone…” kata Zahra.

“You  can always say.. please…”Noel masih tersenyum penuh kemenangan.

“Seriusan, Noel…” Zahra menunjuk dirinya dan Noel. “This… is between us. Nothing comes out after this.”

Okay.”

Noel masih menyeringai, membuat Zahra semakin kesal.

“I’m dead serious.”

“Me too…” kata Noel. “So…?”

“Kemarin aku lembur sampai malam banget… meeting and stuffs

“Sama siapa aja?”

“Ada anak-anak…” Zahra merebahkan punggungnya, “…trus kelar meeting anak-anak ngajakin makan. Aku nggak mau, diet. Terus, aku kesepian…”

“Yeah of course…” timpal Noel sambil tersenyum. Mau tak mau Zahra ikutan nyengir.

“Dan ada cowok ini yang BBM aku dan bilang kalo dia mau ketemuan sama aku.”

“Do I know him?” tanya Noel.

Maybe,” Zahra memberikan senyuman misteriusnya. “And maybe not.”

Noel mengangguk. Otaknya diam-diam langsung memikirkan cowok-cowok yang dia dan Zahra kenal. Siapakah cowok misterius ini?

I went to His place, deket sini juga. Dan kita ngobrol dan ngobrol”

Zahra menyesap minumannya lagi kemudian berdehem pelan, “And things starting to feel hot. And we kissed.”

Noel menghabiskan Hazelnut Latte-nya. Sampai benar-benar habis. Noel merasa mendadak haus.

And we made out and…” Zahra berhenti, sekedar menghela nafas. “You get the idea.”

So…” respon Noel. “How was it? Is it good? Is it bad? Pria yang kayaknya-gue-kenal-kayaknya-nggak-gue-kenal.”

It was…” tatapan Zahra menerawang, memikirkan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. “…interesting…”

“Sejelek itu?”

Samar-samar Zahra mengangguk.

Okay. Detail tapi jangan terlalu banyak informasi.”

“Pada dasarnya ini cowok hanyalah cowok-cowok egois lainnya yang… you know… the one that so selfish. Only think of his own pleasure but…”

“Jadi pada dasarnya kamu nggak ngerasa enak.”

“Ya,” kata Zahra. “Tapi nggak sampe disitu aja. Doi langsung tidur aja abis selesai sementara aku masih melek jaya.”

“Trus…”

“Dia ngorok kenceng abis. Lebih kenceng dari bokap aku. Pokoknya aku nggak bisa tidur dan akhirnya jam 6 tadi aku mutusin untuk jalan kaki dari rumah dia kesini karena nggak ada taksi.”

“Dia nggak nganterin?”

“Dia bilang dia nggak bisa.”

“Anjing!,” kata Noel kencang. “Siapa sih nih cowok? Bajingan banget.” Zahra memandang Noel dengan senyuman. Sedangkan bola mata Noel membelalak seolah berkata ‘WHAT THE FUCK?!’

At least kalo aku, bakalan aku anterin sampe pulang. Atau at least nyariin taksi deh. That’s the least thing that you can do after… you know… putting your dick inside someone’s vagina.”

Beberapa orang yang melewati meja Noel dan Zahra langsung menoleh ke arah mereka begitu mendengar kalimat Noel barusan.

“Ya gitu deh…” desah Zahra sambil menghembuskan nafas. “Aku nggak mau bahas lagi.”

Suasana kedai kopi lumayan ramai di pagi hari ini. Mereka diam selama beberapa detik.

By the way… kamu udah selesai sama Pandu?”

Zahra memberikan tatapan mautnya.

“I’m just asking. And as your closest friend, it’s the least that I can do.” Noel menghisap rokoknya dalam – dalam.

I don’t know…” Zahra memainkan sedotan, “…dia masih BBM dan telpon-telpon seakan nggak terjadi apa-apa.”

That bastard…” desis Noel.

“Udahlah…” Zahra melihat jam tangannya kemudian berdiri. “Yuk, udah jam segini. Kamu nggak telat ngantor?”

Noel melirik jam tangannya. “Kamu nggak kerja?”

“Nggak. Aku pengen tidur aja seharian…” Zahra melihat ke arah luar kedai. “Nyari taksi nih.”

Don’t be stupid. Aku anterin.”

“Ah, nggak ah. Kantor kamu sama rumah aku kan beda arah.”

“Seriusan nih nggak mau dianter?” Noel meraih barang-barangnya di meja dan berdiri.

“Hehe… mau sih… cuman kan harus basa-basi supaya keliatan gimana gitu…”

Noel sukses mengacak – acak rambut Zahra sambil terbahak – bahak.

 
Leave a comment

Posted by on April 20, 2012 in maybe fiction

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: