RSS

Catatan Pro dan Kontra Buat Pandu

“Why you can’t you want me like the other boys do?”

Don’t start, okay?” Noel menatap tajam ke Zahra

Zahra menyesap minumannya kemudian memajukan badannya. “Aku sebenarnya nyamperin kamu kesini karena aku pengen ngomong sesuatu sama kamu…”

“Ada hubungannya sama Pandu nggak?”

Zahra menggigit bibirnya.

“Iya nggak?”

Zahra mengangguk pelan.

Please, don’t,” ucap Noel. “Don’t wanna hear it.”

“Tapi aku nggak tau mau cerita sama siapa,” kata Zahra histeris. Kemudian dia menyesap minumannya lagi. “Plis dong, weeeel…”

Dan seperti biasa,‘Plis dong, weeel..’ ditambah tatapan ‘puppy eyes’ khas dari Zahra selalu manjur.

Fine,” kata Noel.

Zahra menghabiskan minumannya kemudian menyalakan rokok Marlboro Noel yang ada di meja. Ini alkohol yang berbicara. Sehari-harinya Zahra tidak akan pernah mau menghisap rokok. Jangankan menghisap rokok, jadi perokok pasif saja dia selalu menemukan cara untuk mengusir orang yang merokok.

“Tadi sore aku ketemuan sama Pandu…”

Noel menunduk, menyibukkan diri untuk meracik minuman baru, dia tidak mau melihat wajah Zahra setiap dia lagi ngomongin cowok lain.

“Trus, tadi dia bilang kalo dia kemarin tidur sama cewek lain.”

Noel langsung menatap wajah Zahra, tatapan yang seakan berkata “WHAT THE FUCK?”  Zahra langsung memberikan aba-aba tenang kepada Noel. “It’s fine, Noel, please listen to me first

“Trus?” Noel menggeratakkan giginya. Sambil mengepalkan telapak tangannya. Keras dan semakin keras.

“Aku sih nggak bilang mau ngapa-ngapain. Belum mikirin apa-apa…” Zahra menghisap rokoknya lagi. “Cuman… rasanya kayak sayang aja gitu mutusin dia.”

Holy crap, Zahra, Zahra.. Kamu tuh beneran mabok apa emang bego sih? Itu cowok udah nggak setia, dia mainin kamu. He’s a plain bastard!

“Lagian, apanya sih dari si Pandu yang bikin kamu masih mikir gini Za?”

Zahra mendadak bersemangat. Mungkin harusnya dia memang membuat catatan pro dan kontra seperti yang biasa dia lakukan.

“Oke. Kita bikin daftar positif dan negatif buat si Pandu,” kata Zahra. “Positif dulu…”

Noel mengangguk.

“Satu, dia wangi. Aku kan gak suka sama orang yang bau apek. Dia selalu wangi, aku suka. Uum, teruuus.. Dia, orangnya penuh kejutan…”

“Maksudnya?”

“Ya, kayak dua minggu yang lalu contohnya. Tiba – tiba aja gitu dia ngajakin aku jalan-jalan ke daerah Kota Tua trus kita foto-foto naik sepeda kumbang. Kocak.”

Noel memutar bola matanya. “Next,” ucapnya ketus.

“Tiga…. Uhmmm… he’s good in bed.”

Noel mendesah panjang kemudian merebahkan punggungnya ke sofa.

“Kenapa wel? Bener kan? Itu salah satu yang positif dong,” kata Zahra.

“Iya. Iya. Trus?” jawab Noel cepat.

“Udah sih…” kata Zahra.

Noel spontan nyengir. “Hah? Udah? Segitu doang? Trus, negatif-nya apa aja?”

“Dia kayak anak kecil, dia nggak ketebak. Kadang-kadang nggak bisa di-sms atau nggak bisa dihubungin tanpa sebab. Terus dia orangnya sensitif abis. Cuma gara – gara aku salah ngomong dikit dia gampang banget ngambek dan isi twitternya langsung berisi tentang cinta, masa depan dan kematian.”

“Wew…” sahut Noel takjub. “Trus?”

Zahra menyalakan rokok lagi

“Trus,” desak Noel.

“Trus… he’s uncircumsized.

Noel bengong sejenak. Kemudian tertawa terbahak-bahak. “What the fuck??” tanya Noel.

Zahra mematung, memilih tidak merespon, membiarkan Noel menikmati momen ‘ngakak’nya.

“What’s that like?”

“Weird…” jawab Zahra jujur. “I know, aku cuman baru sama satu cowok. Tapi kayak dari bokep-bokep yang aku liat, yang circumsized keliatan lebih… I don’t know… awesome?”

Awesome…” ulang Noel sambil tertawa kecil. “Tapi bukannya yang uncircumsized lebih challenging ya?” ledek Noel sembari kembali terbahak – bahak.

“Aduuh, Noel udah ah. Nggak penting.”

“Oke, iya gausah dibahas” kata Noel. “Tapi udah terbukti kan yang negatif lebih banyak daripada yang positif nya. Putusin aja. Banyak cowok lain kok yang mau sama kamu…”

Masih mengingat cerita Zahra, Noel kembali tertawa, “Lagian ya Za, menurut aku ya, sebagai cowok dan sebagai manusia, poin yang terakhir itu udah beyond repair sih.”

Zahra dan Noel tertawa bersama.

“Thanks,” kata Zahra. “Terbukti kan? Sama kamu akhirnya aku jadi tahu mau ngapain…”

You’re welcome…” Noel mengangkat gelasnya. “Untuk percintaan di masa depan.”

“Dan untuk titit-titit yang udah disunat,” kata Zahra.

Keduanya tertawa.

Cheers!.”

 
Leave a comment

Posted by on May 1, 2012 in maybe fiction

 

Not Another Ordinary Morning at The Coffee Shop

Noel mengambil Hazelnut Latte-nya dan duduk di pojok kedai kopi langganannya sambil merokok dan membaca email – email dari kantor melalui iPhone-nya. Tidak ada yang menarik selain info rapat ini dan itu. Noel meletakkan ponselnya dan saat itulah matanya menangkap sosok yang familiar.

Perempuan ini memakai skinny jeans yang pudar, kemeja merah motif kotak – kotak lusuh, kacamata hitam dan rambut yang agak acak-acakan. Tangannya memegang Blackberry sementara tangannya mengetuk-ngetuk meja counter sambil menunggu pesanannya dibuat. Sesaat setelah barista selesai membuatkan pesanan perempuan ini dan saat perempuan ini bersiap pergi, Noel berdiri di depannya dan tersenyum penuh kemenangan, “Lagi ngapain… Zahra?”

***

Zahra dan Noel duduk di tempat favorit Noel tadi. Zahra tidak melepas kacamatanya, berakting natural seakan-akan majalah yang dipegangnya adalah benda paling menarik sedunia. Sementara Noel terus memasang evil-smile-nya, menatap Zahra tanpa berkedip. Sampai akhirnya Zahra menyerah dan meletakkan majalah itu ke meja.

Okay,” desah Zahra kemudian meraih frapuccinonya.

“First thing first… what the fuck are you doing here at…” Noel memandang jam tangannya, “…7 am in the morning?”

Belum sempat Zahra membuka mulut namun Noel memotongnya, “And why you have sex-hair?”

“Apaan tuh sex hair?”

Noel menaikkan alisnya kemudian menyeruput minumannya dan menyeringai lagi. Bak seorang penjudi yang tahu ia akan menang taruhan.

“Don’t tell anyone…” kata Zahra.

“You  can always say.. please…”Noel masih tersenyum penuh kemenangan.

“Seriusan, Noel…” Zahra menunjuk dirinya dan Noel. “This… is between us. Nothing comes out after this.”

Okay.”

Noel masih menyeringai, membuat Zahra semakin kesal.

“I’m dead serious.”

“Me too…” kata Noel. “So…?”

“Kemarin aku lembur sampai malam banget… meeting and stuffs

“Sama siapa aja?”

“Ada anak-anak…” Zahra merebahkan punggungnya, “…trus kelar meeting anak-anak ngajakin makan. Aku nggak mau, diet. Terus, aku kesepian…”

“Yeah of course…” timpal Noel sambil tersenyum. Mau tak mau Zahra ikutan nyengir.

“Dan ada cowok ini yang BBM aku dan bilang kalo dia mau ketemuan sama aku.”

“Do I know him?” tanya Noel.

Maybe,” Zahra memberikan senyuman misteriusnya. “And maybe not.”

Noel mengangguk. Otaknya diam-diam langsung memikirkan cowok-cowok yang dia dan Zahra kenal. Siapakah cowok misterius ini?

I went to His place, deket sini juga. Dan kita ngobrol dan ngobrol”

Zahra menyesap minumannya lagi kemudian berdehem pelan, “And things starting to feel hot. And we kissed.”

Noel menghabiskan Hazelnut Latte-nya. Sampai benar-benar habis. Noel merasa mendadak haus.

And we made out and…” Zahra berhenti, sekedar menghela nafas. “You get the idea.”

So…” respon Noel. “How was it? Is it good? Is it bad? Pria yang kayaknya-gue-kenal-kayaknya-nggak-gue-kenal.”

It was…” tatapan Zahra menerawang, memikirkan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. “…interesting…”

“Sejelek itu?”

Samar-samar Zahra mengangguk.

Okay. Detail tapi jangan terlalu banyak informasi.”

“Pada dasarnya ini cowok hanyalah cowok-cowok egois lainnya yang… you know… the one that so selfish. Only think of his own pleasure but…”

“Jadi pada dasarnya kamu nggak ngerasa enak.”

“Ya,” kata Zahra. “Tapi nggak sampe disitu aja. Doi langsung tidur aja abis selesai sementara aku masih melek jaya.”

“Trus…”

“Dia ngorok kenceng abis. Lebih kenceng dari bokap aku. Pokoknya aku nggak bisa tidur dan akhirnya jam 6 tadi aku mutusin untuk jalan kaki dari rumah dia kesini karena nggak ada taksi.”

“Dia nggak nganterin?”

“Dia bilang dia nggak bisa.”

“Anjing!,” kata Noel kencang. “Siapa sih nih cowok? Bajingan banget.” Zahra memandang Noel dengan senyuman. Sedangkan bola mata Noel membelalak seolah berkata ‘WHAT THE FUCK?!’

At least kalo aku, bakalan aku anterin sampe pulang. Atau at least nyariin taksi deh. That’s the least thing that you can do after… you know… putting your dick inside someone’s vagina.”

Beberapa orang yang melewati meja Noel dan Zahra langsung menoleh ke arah mereka begitu mendengar kalimat Noel barusan.

“Ya gitu deh…” desah Zahra sambil menghembuskan nafas. “Aku nggak mau bahas lagi.”

Suasana kedai kopi lumayan ramai di pagi hari ini. Mereka diam selama beberapa detik.

By the way… kamu udah selesai sama Pandu?”

Zahra memberikan tatapan mautnya.

“I’m just asking. And as your closest friend, it’s the least that I can do.” Noel menghisap rokoknya dalam – dalam.

I don’t know…” Zahra memainkan sedotan, “…dia masih BBM dan telpon-telpon seakan nggak terjadi apa-apa.”

That bastard…” desis Noel.

“Udahlah…” Zahra melihat jam tangannya kemudian berdiri. “Yuk, udah jam segini. Kamu nggak telat ngantor?”

Noel melirik jam tangannya. “Kamu nggak kerja?”

“Nggak. Aku pengen tidur aja seharian…” Zahra melihat ke arah luar kedai. “Nyari taksi nih.”

Don’t be stupid. Aku anterin.”

“Ah, nggak ah. Kantor kamu sama rumah aku kan beda arah.”

“Seriusan nih nggak mau dianter?” Noel meraih barang-barangnya di meja dan berdiri.

“Hehe… mau sih… cuman kan harus basa-basi supaya keliatan gimana gitu…”

Noel sukses mengacak – acak rambut Zahra sambil terbahak – bahak.

 
Leave a comment

Posted by on April 20, 2012 in maybe fiction

 

Persetan Dengan yang Lain

Dear kamu, si pemilik hobi tidur

Entah mengapa tiap aku ingin menulis sesuatu tentang kamu, jemariku terasa kaku, mungkin kata – kata telah bertumpuk dan beterbangan di atas kepala, namun tak sangup jemari ini tuk menekan tuts di hadapan.

mungkin memang segala sesuatu tentang kamu tidak harus aku tulis, cukup kunikmati sendiri, ya, buat aku saja, kamu satu, sudah cukup manis untuk kureguk tuk memaniskan segala getir.

Aku pikir ini anomali, bukan keromantisan seperti dalam cerita fiksi-fiksi pop yang menjadikan perasaanku padamu (dan aku yakin juga perasaanmu padaku) semakin kuat.
Walau perjalanan kita ini jauh dari kata romantis, bahkan aku tak yakin kalau kita punya arti kata romantis di kamus kita.

Beberapa kebiasaanmu, aku tak suka, beberapa kebiasaanku, kamu tak suka. Tapi kita tetap saling suka, saling menjaga.

Aku menginginkanmu seperti paru-paru menginginkan udara.

Dan, ingatlah selalu kata-kataku ini:

“Aku sayang kamu. Kamu saja. Persetan dengan yang lain!”

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2012 in Weirdo Side of Me

 

Buat si pemilik hobi tidur

Sekilas ku lihat dirimu yang tertidur pulas, senyumanmu menghasut bantal untuk bersenda gurau, merayakan dengan mimpi.

dan aku ingin memeluk kamu.

aku iri pada selimut itu

yang memeluk leher kamu.

sebelum kamu beranjak dari kelopak yang sedia kalanya berkedip berangsur terpejam.

apakah itu aku yang berada di dalam pupil mata mu?

dan tat kala buta sejenak itu sudah melihat sinema khayal yang entah ada aku disitu atau tidak, bibirku pun berbisik,

Dasar Pemalaaas Kamuuu Grace Deviana

 
Leave a comment

Posted by on January 13, 2012 in Weirdo Side of Me

 

Menurut gue, Juliet itu Bodoh!

sepenggal obrolan gue dengan seorang kawan membahas tema gak penting, perihal cinta, cinta mati, cinta buta atau apalah itu..

Juliet akhirnya memilih mati. Ia menegak racun dan tubuhnya terkapar disisi Romeo… Bagi banyak orang, kisah Romeo dan Juliet adalah simbol kesejatian plus ketulusan cinta. Tapi lain hal dengan yg ada di kepala gue. Menurut gue, Juliet itu bodoh!

“Bukankah kebodohan terbesar di dunia ini adalah ketika seseorang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri?” gw berujar.

“Walaupun itu dilakukan atas nama cinta? sahut kawan sambil mengerutkan kening.

“Ya,” balas gw.

“Kebodohan sampai kapanpun akan tetap menjadi kebodohan walaupun dilakukan atas nama cinta…”

“Lho, bukankah cinta itu memerlukan pengorbanan?” sanggah kawan gw.

“Pengorbanan yang dilakukan tanpa logika adalah pengorbanan yang sia-sia. Terbukti, ketika Juliet memilih mati, kisah mereka berakhir. Coba kalau Juliet memilih hidup, mungkin kisahnya akan berakhir dengan bahagia. Menurut gw kematian Juliet bukan semata-mata karena rasa cintanya yang sejati, tapi semata-mata agar ceritanya menjadi menarik. Bukankah cerita yang berakhir dengan tragis akan lebih menarik? Sampek Engtay, Siti Nurbaya, misalnya…” gue membela diri.

“Jadi pengorbanan Juliet bukan karena cinta sejatinya pada Romeo?” tanya kawan.

“Sudah jelas, khan?”

“Trus apa artinya pengorbanan Juliet?” tanya nya lagi.

“Bagi Romeo, pengorbanan Juliet nggak berarti apapun. Soalnya orang yang udah mati nggak mungkin merasakan cinta lagi. Tapi bagi gw, kematian dan pengorbanan Juliet bisa jadi pelajaran penting :
jangan sampai cinta itu membuat kita buta dan kehilangan logika” Tegas gw.

“Sob, Pernah nonton film titanic? kapal tenggelem” tanya gw.

Kawan mengganguk lagi,

“Cinta Rose kepada Jack pun nggak kalah tulus dengan cintanya juliet kepada Romeo. Tapi ketika Jack akhirnya mati, bukan berarti Rose lantas bunuh diri. Cintanya yang besar dan rasa kehilangan nggak membuatnya kehilangan kendali. Kendali itu tetap ada di otaknya. Itulah cinta sejati.”

“Maksudnya ?”

“Di pemikiran gue, Kita selalu menyambut kedatangan orang yang kita cintai dengan mata dan hati yang berbinar-binar namun selalu mengiringi kepergiaannya dengan air mata dan keputusasaan. Cinta sejati adalah ketika kita menerima kepergiannya dengan ketulusan yang sama ketika kita menyambut kedatangannya. Karena pengorbanan terbesar adalah ketika kita harus tetap hidup sementara orang yang kita cintai telah mati…”

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Aksara tanpa Rasa, Selewat Kata

 

Hari ini dia pasti datang

14 Maret 2009

Sedikit grogi aku disini berdiri di hadapanmu.

Aku letakkan undangan itu di atas meja kerjamu.
“Kali ini benar datang ya,” pintaku.
Hening, kau hanya membisu seolah mengacuhkan surat undangan tersebut.

Aku tersenyum simpul, semanis mungkin, kuharap kamu suka, kemudian aku berlalu.

17 Maret 2009
Akhirnya hari itu tiba.
Hari dimana akhirnya kau mau datang ke pesta ulangtahunku,
sudah 2 tahun harapanku dibuat beku oleh ketidakhadiranmu.

Lihatlah, aku sudah dewasa sekarang.
Pipi dan bibirku sudah dibuat merah merona,
yang kuharap bisa membuat hatimu berdesir.
Hari yang sama, pukul 22.00
“Sudah, tak perlu kamu tunggu dia lagi. Dia dari dulu hanya dapat berjanji tanpa pernah ditepati.” kata Ibuku.
“Tidak, Ibu. Hari ini dia pasti datang.” senyumku, yakin.

Dua jam lagi hari ini akan berlalu,
tidak terlihat tanda- tanda kehadirannya.
Tidak ada kabar sama sekali,
seakan – akan dia sudah mati.

Ini sudah saatnya.
Tanpa peduli pandangan hangat dari Ibuku,
dan balon – balon yang seakan ingin menghibur tapi ragu.
Kutusuk leherku tiga kali,
sambil berbisik dalam hati, “datang ya ke pemakamanku, Bapak. Besok pagi.”

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2011 in Aksara tanpa Rasa, Weirdo Side of Me

 

I don’t give a damn about how much you and your insecurity weigh

“I don’t think you love me. You said I’m ugly and silly.”
“Do you know that once I dated a supermodel?”
———————————
“…how is that supposed to make me feel better???”
“Please, let me finish. I dated her for a couple of months, and we went to all of those glamorous parties. It was fun.”
——————————————
“You better finish your story quickly. My insecurity just gained another 5 kilos, thanks to your stupid supermodel story.”
“FYI, I don’t give a damn about how much you and your insecurity weigh! Okay, so the supermodel was so good in bed…unlike you, who refused to have sex before marriage. Fucking lame.”
——————————————-
“Why don’t you just killl me? I just thought you should know.FYI!”
“She is very pretty my eyes get weepy everytime I see her.”
———————————-
“.. If you do adore her.. If you hate me so much why are you still with me?”
“For God sake, Emily! Don’t you get it? She is undeniably the hottest girl I’ve ever dated, but everytime I see her my vision gets blurry! Who the fuck would want his eyes to get blurry? Yes, we went to those glamorous parties but you know me… I can’t stand being someone else in those parties, I’m sick of wearing masks everytime I’m with her..all I wanna do is to drink my beer and laugh my ass off. You Emily, you enable me to do all of that. You make me laugh, you don’t care what shoes I wear, you don’t care if I ride my bike rather than my car…”
—————————-
“But you said you don’t give a damn about me and my insecurity, and that I am lame..”
“It’s true, I don’t give a damn! I’m not here to feed your insecurity.. Do I look like a caretaker? You are lame for thinking that I am a jar of sugar, because some of the things I say might leave scar. Now listen carefully, I need you to tattoo the following confession on your mind. Emily, you are the only person that makes me feel understood and relevant. How can I stop my heart and head from whispering your name everytime your stupid smile makes me feel good”
———————————–
“….. I love you. I’m sorry for being so silly.”
“You ARE silly, and you better stop apologizing. Repeated “sorrys” won’t work unless they give me money. Now shut your mouth and let’s have dinner!”
————————————–
“Babe, say you love me. Please. For once.”
“Damn girl! What a demanding girl you are! Alright, alright. I have a great interest and pleasure in you, an intense feeling of deep affection for you, a deep romantic attachment to someone. Damn, I really need to learn how not to sound cheesy. Okay, Emilyy, you are the girl of my reality that provides me enough faith to keep trying, breathing and smiling. You make me sleep well at night, knowing that there is one wonderful girl in this world that genuinely cares for me, no matter how rude and unromantic I am. There. Satisfied?”
- – - – - -
“See this photo? You look beautiful when you are sleeping.”
“Should I get drunk and then fall asleep everytime my confidence shrunk?”
“Of course not, stupid. I’m not suggesting you to become everyone’s pretty face. I just want your prettiness for my own. I don’t trust any other guys, except for your Father.”
————————————–
“..tell me you can’t live without me..”
“Cut that crap! If your insecurity is a human being, I’d mutilate him until his blood begs for mercy. Emily, I thought we had this discussion last week? I feel ill whenever your insecurity asks for food. I hate these stupid questions!”
—————————————-
“You know me, why don’t you at least try to put up with me? Just tell me that you can’t live without me.”
“Emily, read my lips and hear me closely.. Of course I CAN live without you. You are not food, water and beer, for God’s sake. Stop flattering yourself. You are not THAT important!”
——————————————-
“Oh, okay..  Another kilo for my insecurity!”
“What? Oh, com’on Emily.. You want me to treat you like food, water and beer? To treat you like something to swallow and digest just to survive? Then I’ll burp, throw you away over my ass and push ‘flush’? I’ll even wash my hands twice after. Is that how you want me to treat you?”
————————————————–
“I fucking hate you! I really do! Last week you made me feel loved. Now it feels like you just unnoticeably stab me directly into my fragile heart! I hate you! You hear me? I HATE you!”
“Yes! com’on! Punch me, punch me harder Emily!… Did I see tears there? God damn it, why do girls have to cry.. Come here Emily, you just need a little hug”
—————————————-
“…I just need to make sure that you won’t leave me. I need to be sure that I won’t wake up one day, realizing the absence of you.”
“Giving you a free, all-access pass to enter my life has become both the best and worst decision I’ve ever made, Emily. I can’t be sure of tomorrow, you can’t, no one can. Here is an example, can you be sure of tomorrow’s rain? No you can’t. See? I don’t fear the possibility of your absence, I can’t force you to stay if you want to walk away. It’s not my job. What I fear is…the possibility of you forcing me to leave, which I can assure you, unless you decide to become a slut and cheat on me, I won’t want to walk away.”
—————————————————-
“…”
“What now? Okay, please listen, I’m trying, Emily. Since you have a huge crap of tolerance over my insensitivity, I guess I have to try harder to cope with your insecurity. I can assure you that I will never hurt you on purpose. I’m not going to cheat on you, because I can’t even drive AND text, for God’s sake. I’m not a multitasker. I’m working hard so that one day I’ll be able take you to Fiji, or wherever ridiculous place you keep rambling about. I want to build a roof for both of us to live under, but I know there are still a lot of things I need to prove. So, please be patient. Be sure of me like I am sure of you.”
————————————————
“… I’m sorry..I promise I won’t ask you all those stupid questions again.”
“Shut up, Emily, I know you will. I’ll be your weekly reminder, as long as you promise not to become a fucking pretender. Are we clear? Now wipe your tears, go find your bag and let’s have sumtin to eat! I’m so hungry I can eat you.. Ha!”
 
Leave a comment

Posted by on December 7, 2011 in Aksara tanpa Rasa, Weirdo Side of Me

 

Do you believe in love at the first sight?

Well I don’t. I love to sniff. Yes, sniffing, when I smell something like home, I love it. That simple

 
Leave a comment

Posted by on December 7, 2011 in Aksara tanpa Rasa

 

May I touch you from the inside?

Gue pengen jadi ikan, mencium perut lo lalu berenang-renang di perut lo

Kecipak kecipuk riang lalu diam-diam berenang nakal mendekati hati lo

Menikmati tiap detakan

 

kenapa ikan? karena ikan gak bobok, well, setidaknya ikan gak merem

jadi gue bisa puas kecipak kecipuk dari perut sampai hati lo

berharap bisa menyentuh hati lo, dari dalam..

May I touch you from the inside?

 
3 Comments

Posted by on December 5, 2011 in Weirdo Side of Me

 

Having a Me Time

Atas saran seseorang, gw akhirnya nge-post lagi di blog :D

postingan ini sederhana, berawal pas gw makan di pantry kantor, ada OB nanya gw, “makan sendirian aja mas?”  Err, dan emang iya sih, gw tadi makan sendirian :D

Tapi dari pertanyaan itu bikin gw mikir satu hal. Why sometimes it such a big deal for people to do something alone?

Ya iya sih, dasarnya manusia makhluk sosial. Kalo bisa ya rame-rame, tapi kalo keseringan rame-rame juga lama-lama bosen. It’s not like being in groups is bad. I enjoy going together with friends too. But then I enjoy ‘alone time’ – if I should say – more.

Buat gw itu konyol rasanya kalo lo ga bisa menikmatin hal yang lo suka sendirian hanya karena “ntar orang pada bilang itu aneh”

Buat gw, yang ga wajar itu kalo idup kita muter-muter dalam anggapan ‘ntar orang bilang apa lah / nganggep apa lah / liat gimana lah’. Shit dude, that’s sucks..

What’s wrong in having dinner alone at a cafe?

What’s wrong in watching movie alone at the theater?

Malah kadang kalo sendirian lebih enak aja rasanya. Orang ga ada yang komentar tentang apa yang lo makan atau tentang cara lo makan, orang juga ga ada yang komentar  pas lo lagi nonton film kesukaan lo yang mungkin temen-temen lo anggep aneh. Bodo amat deh. Gw suka. Lo ga suka ya ga usah nonton.

I found solace in being alone. Kadang rasanya lebih tenang dan ga berkesan grasa-grusu. Elo sendiri yang nentuin kapan lo mulai dan kapan lo selesai.

Manusia emang makhluk sosial, tapi tiap orang juga individu sendiri :D  So enjoy your solace and find your own inner peace :)

 
2 Comments

Posted by on November 4, 2011 in Weirdo Side of Me

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.