“Why you can’t you want me like the other boys do?”
“Don’t start, okay?” Noel menatap tajam ke Zahra
Zahra menyesap minumannya kemudian memajukan badannya. “Aku sebenarnya nyamperin kamu kesini karena aku pengen ngomong sesuatu sama kamu…”
“Ada hubungannya sama Pandu nggak?”
Zahra menggigit bibirnya.
“Iya nggak?”
Zahra mengangguk pelan.
“Please, don’t,” ucap Noel. “Don’t wanna hear it.”
“Tapi aku nggak tau mau cerita sama siapa,” kata Zahra histeris. Kemudian dia menyesap minumannya lagi. “Plis dong, weeeel…”
Dan seperti biasa,‘Plis dong, weeel..’ ditambah tatapan ‘puppy eyes’ khas dari Zahra selalu manjur.
“Fine,” kata Noel.
Zahra menghabiskan minumannya kemudian menyalakan rokok Marlboro Noel yang ada di meja. Ini alkohol yang berbicara. Sehari-harinya Zahra tidak akan pernah mau menghisap rokok. Jangankan menghisap rokok, jadi perokok pasif saja dia selalu menemukan cara untuk mengusir orang yang merokok.
“Tadi sore aku ketemuan sama Pandu…”
Noel menunduk, menyibukkan diri untuk meracik minuman baru, dia tidak mau melihat wajah Zahra setiap dia lagi ngomongin cowok lain.
“Trus, tadi dia bilang kalo dia kemarin tidur sama cewek lain.”
Noel langsung menatap wajah Zahra, tatapan yang seakan berkata “WHAT THE FUCK?” Zahra langsung memberikan aba-aba tenang kepada Noel. “It’s fine, Noel, please listen to me first”
“Trus?” Noel menggeratakkan giginya. Sambil mengepalkan telapak tangannya. Keras dan semakin keras.
“Aku sih nggak bilang mau ngapa-ngapain. Belum mikirin apa-apa…” Zahra menghisap rokoknya lagi. “Cuman… rasanya kayak sayang aja gitu mutusin dia.”
“Holy crap, Zahra, Zahra.. Kamu tuh beneran mabok apa emang bego sih? Itu cowok udah nggak setia, dia mainin kamu. He’s a plain bastard!”
“Lagian, apanya sih dari si Pandu yang bikin kamu masih mikir gini Za?”
Zahra mendadak bersemangat. Mungkin harusnya dia memang membuat catatan pro dan kontra seperti yang biasa dia lakukan.
“Oke. Kita bikin daftar positif dan negatif buat si Pandu,” kata Zahra. “Positif dulu…”
Noel mengangguk.
“Satu, dia wangi. Aku kan gak suka sama orang yang bau apek. Dia selalu wangi, aku suka. Uum, teruuus.. Dia, orangnya penuh kejutan…”
“Maksudnya?”
“Ya, kayak dua minggu yang lalu contohnya. Tiba – tiba aja gitu dia ngajakin aku jalan-jalan ke daerah Kota Tua trus kita foto-foto naik sepeda kumbang. Kocak.”
Noel memutar bola matanya. “Next,” ucapnya ketus.
“Tiga…. Uhmmm… he’s good in bed.”
Noel mendesah panjang kemudian merebahkan punggungnya ke sofa.
“Kenapa wel? Bener kan? Itu salah satu yang positif dong,” kata Zahra.
“Iya. Iya. Trus?” jawab Noel cepat.
“Udah sih…” kata Zahra.
Noel spontan nyengir. “Hah? Udah? Segitu doang? Trus, negatif-nya apa aja?”
“Dia kayak anak kecil, dia nggak ketebak. Kadang-kadang nggak bisa di-sms atau nggak bisa dihubungin tanpa sebab. Terus dia orangnya sensitif abis. Cuma gara – gara aku salah ngomong dikit dia gampang banget ngambek dan isi twitternya langsung berisi tentang cinta, masa depan dan kematian.”
“Wew…” sahut Noel takjub. “Trus?”
Zahra menyalakan rokok lagi
“Trus,” desak Noel.
“Trus… he’s uncircumsized.”
Noel bengong sejenak. Kemudian tertawa terbahak-bahak. “What the fuck??” tanya Noel.
Zahra mematung, memilih tidak merespon, membiarkan Noel menikmati momen ‘ngakak’nya.
“What’s that like?”
“Weird…” jawab Zahra jujur. “I know, aku cuman baru sama satu cowok. Tapi kayak dari bokep-bokep yang aku liat, yang circumsized keliatan lebih… I don’t know… awesome?”
“Awesome…” ulang Noel sambil tertawa kecil. “Tapi bukannya yang uncircumsized lebih challenging ya?” ledek Noel sembari kembali terbahak – bahak.
“Aduuh, Noel udah ah. Nggak penting.”
“Oke, iya gausah dibahas” kata Noel. “Tapi udah terbukti kan yang negatif lebih banyak daripada yang positif nya. Putusin aja. Banyak cowok lain kok yang mau sama kamu…”
Masih mengingat cerita Zahra, Noel kembali tertawa, “Lagian ya Za, menurut aku ya, sebagai cowok dan sebagai manusia, poin yang terakhir itu udah beyond repair sih.”
Zahra dan Noel tertawa bersama.
“Thanks,” kata Zahra. “Terbukti kan? Sama kamu akhirnya aku jadi tahu mau ngapain…”
“You’re welcome…” Noel mengangkat gelasnya. “Untuk percintaan di masa depan.”
“Dan untuk titit-titit yang udah disunat,” kata Zahra.
Keduanya tertawa.
“Cheers!.”